Sebuah pilihan menjadi dewasa
Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Pilihan yang cukup sulit namun mau tak mau harus tetap dilalui entah dengan sepenuh hati atau dengan berat hati.
Banyak yang bilang semakin dewasa berarti menjadi semakin tidak peduli. Semakin berfokus pada diri sendiri dan masa bodo dengan omongan orang. Memang benar tapi bukankah dengan cara itu berarti belum menjadi dewasa sepenuhnya?
Sebagai seorang introvert sejati yang apatis, "tidak peduli" ada di dalam top list hidup gue. Berkali-kali masa bodo dengan omongan orang atau benar-benar tidak peduli akan sekitar itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Pake legging ke kampus, masa bodo amat. Gak ikut himpunan, yaudah aja. Gak tau nama Pak RT juga biarin aja. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.
Lalu katanya "Semakin dewasa semakin bodo amat sama sekitar."
It's like...sedikit salah gak sih?
Maksud gue, bukannya semakin dewasa kita malah harus jadi makin peduli sama sekitar ya? Kaya kita perlu tau nama-nama tetangga buat sekedar basa-basi pas ada acara rapat RT. Karna lo udah dewasa dan lo akan berada di lingkungan baru menjadi bapak-bapak atau ibu-ibu yang akan jadi perwakilan dalam satu rumah.
Hmmm ngerti kan apa yang gue omongin? kalo engga boleh di close aja tab blog gue haha.
Jadi dewasa kita jadi harus makin peduli, jam berapa biasanya tukang sampah depan rumah lewat. Perbanyak baca berita biar bisa basa-basi sama orang yang lagi sama-sama nunggu buat bikin surat domisili di kelurahan. as simple as that.
Dan makanya karna gue masih menjadi introvert apatis, gue belum sanggup menjadi dewasa hehehe.
Sekian basa-basi dari gue yang alhamdulillah bisa WFH dari rumah.
Semoga wabah virus corona bisa segera berlalu. Aamiin!
Bye!
Banyak yang bilang semakin dewasa berarti menjadi semakin tidak peduli. Semakin berfokus pada diri sendiri dan masa bodo dengan omongan orang. Memang benar tapi bukankah dengan cara itu berarti belum menjadi dewasa sepenuhnya?
Sebagai seorang introvert sejati yang apatis, "tidak peduli" ada di dalam top list hidup gue. Berkali-kali masa bodo dengan omongan orang atau benar-benar tidak peduli akan sekitar itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Pake legging ke kampus, masa bodo amat. Gak ikut himpunan, yaudah aja. Gak tau nama Pak RT juga biarin aja. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.
Lalu katanya "Semakin dewasa semakin bodo amat sama sekitar."
It's like...sedikit salah gak sih?
Maksud gue, bukannya semakin dewasa kita malah harus jadi makin peduli sama sekitar ya? Kaya kita perlu tau nama-nama tetangga buat sekedar basa-basi pas ada acara rapat RT. Karna lo udah dewasa dan lo akan berada di lingkungan baru menjadi bapak-bapak atau ibu-ibu yang akan jadi perwakilan dalam satu rumah.
Hmmm ngerti kan apa yang gue omongin? kalo engga boleh di close aja tab blog gue haha.
Jadi dewasa kita jadi harus makin peduli, jam berapa biasanya tukang sampah depan rumah lewat. Perbanyak baca berita biar bisa basa-basi sama orang yang lagi sama-sama nunggu buat bikin surat domisili di kelurahan. as simple as that.
Dan makanya karna gue masih menjadi introvert apatis, gue belum sanggup menjadi dewasa hehehe.
Sekian basa-basi dari gue yang alhamdulillah bisa WFH dari rumah.
Semoga wabah virus corona bisa segera berlalu. Aamiin!
Bye!
Comments
Post a Comment